Post Top Ad

Post Top Ad

Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Mei 2017

18.26

KISAH MENGHARUSKAN , SAHABAT RASULLULLAH SAW

1. Mu’adz bin Jabal yang menjerti dan menagis teresak-esak sehingga beliau tidak sadarkan diri karena dapat berita tentang kematian Rasulullah SAW.

CERITA SAHABAT RASULLULLAH


2. Rasulullah telah patah gigi di dalam perang Uhud, berita itu sampai ke Awais dan Awais di rumahnya sanggup mematahkan giginya sendiri kerana hendak merasai apa yg Rasulullah telah rasai.

3. Ada seorang pedagang minyak wangi, di Madinah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah Saw, dia tunggu sampai Rasulullah keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia hanya mengucapkan salam lalu memandang Rasulullah saja, setelah puas dia pergi. Suatu hari setelah dia ketemu Rasululllah dan dia pergi, lalu tak lama kemudian balik dari pasar dan dia datang kepada Rasulullah Saw dan meminta izin, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut dan tidak sanggup tidak dapat melihat tuan seperti ini lagi.”

4. Abu Ayyub Al-Anshari. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau beristirahat dahulu di pinggiran kota menginap di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Rumahnya itu dua tingkat, Abu Ayyub dan istrinya di tingkat atas dan Rasulullah Saw di bawah. Pada malam hari Abu Ayub dan istrinya tidak sanggup tidur karena mereka takut menggerakkan tubuhnya, semua terbujur seperti sebongkah kayu menahan dirinya untuk tidak bergerak. Mereka takut kalau bergerak, nanti debu-debu dari atas itu berjatuhan kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah mengetahui hal itu, beliau sangat terharu lalu kepada Abu Ayub diajarkan sebuah doa sebagai penghargaan beliau atas cinta yang tulus dari Abu Ayub.

5. Dalam perang Uhud, ketika kaki Rasulullah terluka, ada seorang sahabat melihatnya lalu mengejar Rasulullah. Dia pegang kaki itu lalu dia bersihkan luka itu dengan jilatannya. Rasulullah terkejut lalu berkata, “Lepaskan! Lepaskan!” Sahabat itu berkata: “Tidak Ya Rasulullah, aku tidak akan melepaskannya sampai luka ini kering!”

6. Rasulullah sedang membariskan pasukannya karena Rasulullah selalu merapikan barisan pasukannya. Ternyata ada seorang sahabat, mungkin karena perutnya terlalu besar, selalu perutnya itu berada di luar barisan. Kemudian Rasulullah datang dan memukul perutnya itu agar dirapikan dengan barisan. Lalu sahabat itu memandang Rasulullah dan berkata: “Engkau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, kenapa kau sakiti perutku?” Lalu Rasulullah turun dari kudanya, dan menyerahkan alat pemukul itu, lalu berseru: “Pukullah aku! Sebagai qishas atas kesalahanku.” Kemudian orang itu berkata: “Tapi engkau pukul langsung kepada kulit perutku.” Lalu Rasulullah segera membuka pakaiannya, tiba-tiba sahabat itu memeluk Rasulullah dan mencium perutnya. Rasulullah terkejut dan berkata: “Ada apa denganmu?” Sahabat itu menjawab: “Ya Rasulullah, genderang perang sudah ditabuh, mungkin ini adalah saat terakhir perjumpaanku denganmu. Saya ingin sebelum meninggal dunia, sempat mencium perutmu yang mulia.”

7. Bilal yang selalu adzan semasa hidup Rasulullah tidak mau beradzan lagi setelah wafat Rasulullah karena Bilal tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasululah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Bilal tidak sanggup meneruskannya, dia berhenti dan menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan karena tidak sanggup menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan akan Rasulullah Saw.

8. Seorang budak bernama Tsauban sangat menyayangi dan hatinya selalu merindukan Rasulullah Muhammad SAW. Sehari saja tidak bertemu Nabi, rasanya seperti setahun baginya. Kalau bisa dia ingin bersama Rasul setiap waktu. Karena jika tidak bertemu Rasulullah, dia amat sedih, murung dan seringkali menangis. Demikian juga yang dilakukan Rasulullah terhadap Tsauban begitu mengetahui betapa besarnya kasih sayang Tsauban terhadap dirinya. Suatu hari Tsauban berjumpa Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, saya sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walaupun sekejap. Jika sudah bertemu barulah hatiku menjadi tenang dan gembira sekali. Apabila memikirkan akhirat, hati ini bertambah cemas dan takut kalau-kalau tidak dapat bersama denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga yang tinggi. Sedangkan saya belum tentu, entah di syurga paling bawah atau yang paling mencemaskan, kemungkinan tidak dimasukkan ke syurga langsung. Jika demikian, tentu saya tidak akan bertemu denganmu lagi.” Rasulullah amat terharu mendengar perkataan Tsauban. Namun beliau tidak dapat berbuat apa-apa karena balasan surga atau neraka bagi setiap hamba itu hak dan urusan Allah. Maka setelah peristiwa itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah SAW yang berbunyi;

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

“Barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa’:69). Mendengar jaminan itu Tsauban pun tersenyum. Hatinya menjadi tenang dan gembira kembali.

Itu lah tadi beberapa kisah mengharukan para sahabat Rasullullah SAW.

Selasa, 31 Januari 2017

20.43

DOA AGAR REZEKI MELIMPAH, BACA DOANYA DAN SEBARKAN


Banyak orang yang ingin mendapat rezeki yang melimpah, akan tetapi mereka menggunakan cara yang begitu instan. Cara - cara ini bisa menyesatkan, karena dengan ingin rezeki melimpah, banyak orang menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan rezeki.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hambaNya yang berdoa kepada-Nya, bahkan karena cinta-Nya Allah memberi ‘bonus’ berupa ampunan dosa kepada hamba-Nya yang berdoa. Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:

“Wahai manusia, selagi engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, aku mengampuni dosamu dan tidak aku pedulikan lagi dosamu” (HR. At Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’).

Dan doa adalah suatu bentuk ibadah agung yang Alloh Ta’ala perintahkan :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.(Q.S:Ghaafir: 60)

Doa Pembuka Rezeki Menurut Al Qur'an Dan Hadist

Doa Pembuka Rezeki Menurut Al Qur’an dan Hadist

Barangsiapa yang berdoa kepada Allah dengan hati yang khusyu’ dan berdoa sesuai dengan aturan syariat maka tidak ada penghalang diterima doa tersebut. Hal ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan dalam firman-Nya:

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 90)

Di antara doa doa yang berkaitan dengan Doa Pembuka Rezeki Menurut Al Qur’an dan Hadist adalah sebagai berikut ini:

Diturunkannya rezeki dengan memperbanyak istighfar. Dalil tuntunan tersebut firman Allah ta’ala,
“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً”

Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh: 10-12)

Di antara lafadz istighfar yang ada terdapat dalam hadist adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

Astaghfirullâh. (HR. Muslim)

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه

Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih. (HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani)

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت

“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”. HR. Bukhari.

Lafaz yang terakhir ini merupakan sayyidul istighfar  yaitu sebaik-baiknya istigfar. Karena barangsiapa mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka ia akan dimasukkan ke surga. Begitu pula jika diucapkan di malam hari dengan meyakini maknanya, lalu ia meninggal di pagi harinya maka ia akan dimasukkan ke surga.(HR. Al-Bukhari – Fathul Baari 11/97)

2. Doa memohon limpahan rezeki

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya :

“Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang orang yang bersama kami dan yang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling utama.” (QS. Al-Maidah/5: 114)

3. Do’a Meminta Kesehatan dan Kelapangan Rizki

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ، وَارْحَمْنِي ، وَاهْدِني ، وَعَافِني ، وَارْزُقْنِي

“Allahummaghfirlii, warhamnii, wahdinii, wa ‘aafinii, warzuqnii.” Artinya: Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah petunjuk padaku, selamatkanlah aku (dari berbagai penyakit), dan berikanlah rezeki kepadaku.

Keutamaan meminta rizki yaitu agar dimudahkan oleh Allah untuk memperolehnya sehingga tidak sampai lalai dari melakukan ketaatan. Rizki itu ada dua macam yaitu yang bisa menegakkan badan dan bisa menguatkan hati. Menguatkan badan yaitu melalui makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Menguatkan hati yaitu melalui ilmu bermanfaat (ilmu diin) dan amalan sholih. Permintaan rizki tersebut mencakup dua macam rizki ini.

4. Doa minta kecukupan rezeki

اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

Artinya :

“Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal,  sehingga aku tidak memerlukan yang haram,  dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)

5. Doa agar terlepas dari jeratan hutang

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, pada suatu hari Rasulullah saw. hendak memasuki masjid. Ketika itu beliau mendapati seorang sahabat dari Anshar yang bernama Abu Umamah yang sedang duduk merenung di dalam masjid. Rasulullah saw. bersabda: “Ada apakah gerangan engkau duduk di dalam masjid ketika bukan waktu shalat?” Dia menjawab “Kegelisahan dan pikiran atas hutang yang selalu menyelimutiku wahai Rasul.” Beliau berkata “Maukah aku ajarkan perkataan yang apabila engkau ucapkan maka Allah Azza wa Jalla akan menghilangkan kegelisahanmu dan melunaskan hutang-hutangmu?” Ia menjawab “Iya ya Rasulullah” kemudian Rasul bersabda “Apabila kamu berada di pagi dan sore hari maka ucapkanlah :

اَللّٰهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزْنِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوْذُبِكَ مِنْ غَلَبَتِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ.


Artinya :

“Ya Allah aku berlindung kepa-Mu dari  kegundahan dan kesedihan dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan bakhil dan aku berlindung kepada-Mu dari terlilit hutang dan pemaksaan dari orang lain.” (HR. Abu Dawud).

Dan Abu Umamah berkata : “Kemudian aku melaksanakannya dan ternyata Allah Azza wa Jalla menghilangkan kegundahanku dan melunaskan hutang-hutangku.” (HR. Abu Dawud)

6. Doa agar menghilangkan kefakiran dan melunaskan hutang

اللّٰهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْـمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةَ وَالإِنْجِيْلَ وَالقُرْآنَ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شرِّ كُلِّ ذِي شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَالظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَالْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنِّي الدَّيْنَ وَاغْنِنِيْ مِنَ الْفَقْرِ.
Artinya :

“Ya Allah, Tuhan bagi tujuh lapisan langit, juga Tuhan ‘Arasy yang agung. Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu. Yang menurunkan Taurat, Injil dan Quran. Yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menghasilkan buah-buahan. Aku mohon berlindung denganMu daripada kejahatan segala suatu yang jahat yang ubun-ubunnya di dalam genggaman-Mu. Engkaulah yang awal, tiada suatu pun yang sebelum Engkau. Engkaulah yang akhir, tiada suatu pun yang selepas Engkau. Engkaulah yang zahir, tiada suatu pun yang di atas Engkau. Engkaulah yang batin, tiada suatu pun yang di bawah Engkau. Tunaikanlah hutangku dan berilah aku kekayaan daripada kefakiran.” (HR. At-Tirmizi dan dinilai Hasan Sahih).

7. Doa Mudah Rezeki dan Terhindar Dari Kekufuran

اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

Artinya :

 “Ya Allah, aku berlindung dari kekufuran, kemiskinan dan siksa kubur.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Abi Syaibah).

Mudah - mudahan doa yang saya berikan dapat bermanfaat. Amiin..

Kamis, 26 Januari 2017

17.29

CERITA SAHABAT RASULLULLAH

Sahabat blog Islam itu indah, Para sahabat dan generasi salaf secara umum adalah umat terbaik sepanjang sejarah Islam. Ini seperti ditegaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Imran bin Hushain.


Kedekatan mereka dengan Rasulullah SAW menjadi faktor utama keistimewaan tersebut. Ini didukung dengan beberapa komitmen terhadap risalah yang dibawa Rasul. Seperti apakah potret para generasi salaf?

Lewat bukunya yang berjudul Syifa al-Qulub, Syekh Musthafa al-Adawi menginventarisasi sejumlah potret keteladanan para salaf. Kesungguhan, komitmen, kesehajaan, kesalihan, dan ragam kebajikan terdapat dalam pribadi mereka.

Inilah keteladan yang mendasar dari para generasi salaf. Segala amal saleh mereka lakukan, bahkan satu sahabat bisa beramal lebih dari satu jenis amalan pada pagi hari, seperti yang pernah ditunjukkan Abu Bakar.

Rasul, dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah, pernah bertanya siapa yang pada pagi itu sedang berpuasa, mengantarkan jenazah, memberikan makan dhuafa, dan menjenguk orang sakit?

Dan, Abu Bakarlah satu-satunya sosok yang mampu menjawab pertanyaan Rasul itu dengan jawaban “saya”. Rasul pun menimpali jawaban mertuanya itu dengan sebuah ganjaran setimpal. “Tidaklah ke semua amalan itu berkumpul dalam pribadi seseorang kecuali akan masuk surga,” titah Rasul.

Potret keteladanan para sahabat yang berikutnya, ungkap al-Adawi, ialah kegemaran mereka menafkahkan harta untuk menopang agama dan aktivitas keagamaan. Ini seperti ditunjukkan Umar bin Khatab dan Abu Bakar. Bahkan, keduanya saling berkompetisi dalam artian positif guna membelanjakan harta mereka di jalan Allah.

Umar pernah menginfakkan separuh hartanya dan setengah lainnya disisakan untuk keluarga. Tanpa diduga, ternyata Abu Bakar telah menyedekahkan keseluruhan hartanya. Umar pun berseloroh tak mampu lagi mengungguli kebaikan Abu Bakar.

Para sahabat tersebut, belajar tauhid, lalu menekankan betul arti ketauhidan itu bahwa Dialah satu-satunya yang patut disembah. Seperti dikisahkan Aisyah dalam riwayat Bukhari, ketika Rasul meninggal, para sahabat, terutama Umar bin Khatab, sempat tidak percaya.

Bahkan, sahabat berjuluk al-Faruqtersebut sempat marah dan akan memotong kaki serta tangan siapa pun yang bilang Rasul wafat. Hingga akhirnya, Abu Bakar memastikan kabar dan fakta tersebut. “Barangsiapa yang menyembah Muhammad SAW maka Rasul wafat. Dan, barangsiapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah tidak akan pernah mati.”

Tiap musibah, bencana, dan kesulitan, telah ditetapkan Sang Khalik. Di tengah-tengah  impitan masalah tersebut, pertolongan Allah akan datang bagi orang-orang mukmin yang bertawakal. Sebab, Dia akan memberikan kemudahan setelah kesulitan.

Karena, Allah selalu menyertai hamba-Nya yang beriman. Ketika Rasul dan Abu Bakar bersembunyi dalam gua dari kejaran orang musyrik, nyaris saja terungkap. Kekhawatiran tampak dari raut muka Abu Bakar. Tetapi, Rasul meyakinkan, “Tenanglah, jika kita berdua Allah SWT adalah pihak ketiga.”

Menariknya, para sahabat itu tidak pernah silau dan pongah dengan keistimewaan yang mereka miliki. Ini seperti tergambar dari sosok Umar bin Khatab, ketika Ibnu Abbas mengungkap kedekatan Umar dengan Rasul dan Abu Bakar. “Semua itu adalah anugerah Allah,” kata ayahanda Khafshah tersebut.

Potret sahabat Rasulullah selanjutnya, yaitu mereka merupakan teladan tentang bagaimana bersikap malu kepada Allah, sehingga muncul kontrol diri baik di dalam kondisi terang-terangan ataupun menyendiri. Sikap malu ini mendorong rasa segan dan hormat, para malaikat kepada para sahabat. Sosok Utsman bin Affan, salah satunya.

Sahabat berjuluk dzun nurain itu adalah figur pemalu. Suatu ketika, Abu Bakar dan Umar bin Khatab pernah menghadap Rasul dalam kondisi seadanya. Tetapi, ketika giliran Utsman bin Affan tiba, Rasul bergegas merapikan baju. Ini membuat Aisyah terheran, ada apa dengan Utsman. Rasul pun menjawab, “Tidakkah aku malu terhadap lelaki yang disegani para malaikat,” titah Rasul.

Keberanian menempatkan pula sahabat sebagai generasi istimewa lagi unggul. Ketika perintah berjihad datang, mereka tak gentar, tetap bersabar, dan gigih. Sekali ke medan peran, tak ada kata mundur. Ini seperti yang dikisahkan Ali bin Abi Thalib. Ketika itu, ‘Atabah bin Rabi’ah menantang duel dan menginginkan lawan setimpal dari golongan Muhajirin. Rasul akhirnya menunjuk Hamzah, Ali, dan Ubaidah bin al-Harits. Duel maut pun terjadi dan ketiga maju lalu bertempur dengan gagah berani menghadapi musuh - musuh islam.

Selasa, 24 Januari 2017

17.57

ADA BEBERAPA PILAR CARA MENUJU KESUKSESAN DALAM AGAMA ISLAM

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Di dalam sebuah karyanya yang sudah populer Tsalatsatul Ushul/Tiga Landasan Utama, Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah memberikan mukadimah yang sangat penting bagi kita dalam beragama.

Beliau menjelaskan bahwa ada empat hal penting yang harus kita pelajari; yaitu ilmu, amal, dakwah, dan sabar. Beliau pun menyebutkan dalil atau dasarnya, yaitu firman Allah dalam surat al-‘Ashr yang sudah kita ketahui bersama.

Allah berfirman (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr : 1-3)

Di dalam risalah itu, beliau juga menerangkan kepada kita bahwa ilmu yang pokok untuk kita pelajari ada tiga; mengenal Allah, mengenal nabi-Nya, dan mengenal agama Islam dengan landasan dalil.

Apabila kita cermati bersama, di dalam surat tersebut Allah menyebutkan bahwa ciri utama orang yang dikecualikan dari kerugian adalah orang-orang yang beriman. Kemudian, apabila kita lihat kesimpulan yang diberikan oleh Syaikh at-Tamimi bahwa yang pertama kali harus kita pelajari adalah ilmu. Kedua hal ini sama sekali tidak mengandung pertentangan, bahkan keduanya saling berkaitan erat.

Oleh sebab itu, setelah membawakan materi ini -di dalam risalahnya tersebut- Syaikh juga menyebutkan perkataan Imam Bukhari rahimahullah, Bab Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan. Dan sebagaimana sudah kita ketahui bahwasanya iman -dalam akidah Ahlus Sunnah- merupakan perpaduan antara ucapan dan perbuatan. Ucapan lisan dan ucapan hati. Perbuatan hati dan perbuatan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang atau cacat akibat kemaksiatan.

Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa membangun keimanan yang benar tidak bisa dilepaskan dari landasan ilmu yang benar pula. Tanpa ilmu yang benar maka keimanan akan menyimpang dan jauh dari petunjuk Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha : 123)

Oleh sebab itu pula, kita bisa melihat bahwa Imam Bukhari rahimahullah dalam menyusun kitab yang ada di dalam Sahih-nya, maka beliau awali dengan Kitab Bad’ul Wahyi/permulaan turunnya wahyu, kemudian Kitab al-Iman, dan setelah itu Kitab al-‘Ilmi. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa iman harus dilandasi dengan ilmu, yaitu ilmu yang berasal dari wahyu; baik al-Kitab maupun as-Sunnah.

Intinya, ilmu adalah landasan bagi iman. Oleh sebab itu pula, salah satu syarat dari syahadat laa ilaha illallah ialah harus mengetahui maknanya. Dengan ilmu itu pula niat seorang dalam beramal akan menjadi lurus, dan dengan lurusnya niat akan menjadi jalan menuju kelurusan dalam beramal.

Namun, ilmu saja tidak cukup jika tidak disertai dengan amal. Oleh sebab itu pilar kedua yang harus kita miliki untuk sukses adalah beramal salih. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Amal inilah yang menjadi salah satu sebab masuknya hamba ke surga, setelah rahmat dan keutamaan dari Allah tentunya.

Amal yang salih adalah amal yang ikhlas karena Allah dan dikerjakan dengan mengikuti ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kehilangan ikhlas akan menyebabkan orang termasuk kelompok pelaku kesyirikan. Kehilangan ittiba’ atau tidak mengikuti tuntunan Nabi akan menjadikan pelakunya termasuk dalam penganut kebid’ahan.

Pilar yang ketiga setelah ilmu dan amal ialah dakwah. Yang dimaksud dengan dakwah di sini adalah ajakan kepada agama Allah. Berdakwah kepada iman, tauhid, dan syari’at Islam. Memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Berdakwah kepada manusia dengan cara yang hikmah, nasihat yang baik dan kalau perlu diadakan diskusi dan perdebatan dengan metode yang terbaik. Untuk dakwah ini pun dibutuhkan ilmu. Tanpa ilmu, seorang akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.

Pilar yang keempat yaitu sabar. Digambarkan oleh para ulama kita bahwa sabar dalam keimanan laksana kepala bagi anggota badan. Apabila kepalanya hilang maka tidak ada lagi nyawa di badan. Demikianlah sabar, apabila sabar itu lenyap maka lenyap pula keimanan. Karena sabar itu mencakup tiga bagian; sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar ketika tertimpa musibah.

Diantara bentuk kesabaran yang sangat penting dan ditekankan oleh para ulama ialah sabar dalam menimba ilmu, sabar dalam mengamalkan ilmu, dan sabar dalam berdakwah. Karena sudah menjadi sunnatullah bahwa para da’i akan mendapatkan gangguan dan rintangan di jalan Allah. Namun mereka harus tetap bersabar hingga datangnya pertolongan Allah. Karena sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang dengan tulus dan ikhlas berjuang menolong agama-Nya.

Demikian pula diantara bentuk kesabaran yang sangat kita butuhkan dan telah menjadi ujian besar bagi umat Islam di sepanjang perjalanan sejarah ialah bersabar dalam menghadapi penguasa yang zalim. Karena sabar dalam menghadapi mereka adalah salah satu pokok diantara pokok-pokok akidah Ahlus Sunnah, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.

Kita telah melihat bersama dalam sejarah, bagaimana Imam Ahmad bin Hanbal seorang imam panutan dan pembela dakwah Ahlus Sunnah wal Jama’ah harus dipenjara selama tiga periode pemerintahan, beliau disiksa, dicambuk dan mendapatkan tekanan sedemikian rupa supaya meninggalkan salah satu akidah Islam tentang al-Qur’an.

Meskipun demikian beliau tetap bersabar dan tidak mau memberontak kepada penguasa muslim yang sah. Karena terjaganya darah dan harta kaum muslimin serta keamanan negara terlalu berharga untuk dikorbankan. Dari sinilah kita bisa memetik pelajaran betapa pentingnya kesabaran di dalam memperjuangkan agama Allah, bukan hanya dorongan semangat dan perasaan tanpa ilmu dan kesabaran.

Ilmu, amal, dakwah, dan sabar. Inilah empat pilar sukses yang kita butuhkan di dalam mengarungi kehidupan yang penuh akan godaan dan rintangan. Semoga Allah berikan kepada kita taufik untuk meraih ilmu yang bermanfaat dan amal salih.

17.54

APA ITU ISLAM ?


Banyak orang bertanya - tanya mengenai islam, agama apa itu islam?
Bahkan ada yang menjelek-jelekkan agama ini, sesungguhnya agama islam
itu ajarannya yang dituntunkan oleh Al-Quran dan Hadis Nabi mengenai peribadahan kepada Allah dan ketaatan terhadap-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)

Jibril bertanya: “Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Islam itu hendaklah engkau bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah, dan bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah. Mendirikan sholat. Menunaikan zakat. Berpuasa pada bulan ramadhan. Dan mengerjakan haji ke Baitullah jika engkau mampu menjalaninya.” (Shahih Muslim I/135)

Minggu, 22 Januari 2017

17.15

9 AMALAN UNTUK MENGHINDARI SIHIR DAN GANGGUAN SYAITAN

1. Makan Kurma Ajwah dan Kurma Madinah.

Amalkan memakan tamar (kurma) ‘ajwah dan jika boleh makan bersama tamar madinah. Sekiranya anda tidak boleh mendaptkan kedia-dua jenis tamar tersebut, makanlah apa-apa jenis tamar yang ada supaya menepati sabda Rasulullah s.a.w yang berbunyi:

“Barang siapa yang memakan tujuh biji tamar’ajwah, dia tidak akan mendapat sebarang kemudaratan racun atau sihir yang terkena pada hari itu”.

(Hadis Riwayat Al Bukhari)

2. Berwudhu Sebelum tidur

Sihir tidak akan memberi sebarang kesan terhadap seseorang muslim yang mempunyai wuduk. Setiap muslim yang berwuduk akan sentiasa dikawal ketat oleh para Malaikat sebagaimana diperintahkan oleh Allah S.W.T kepada meraka. Sabda Rasulullah SAW maksudnya: “Sucikanlah jasad-jasad ini mudah-mudahan Allah akan menyucikan kamu, Kerana sesungguhnya tiada seorang pun dari mereka yang bersuci terlebih dahulu sebelum tidur, melainkan anda bersamanya”


Malaikat tersebut tidak akan pernah terlali walaupun sedetik untuk mengucapkan doa:

“Ya Allah!Ampunilah dosa hambaMu ini kerana dia telah tidur dalam keadaan bersuci”

(Hadis Riwayat AT Tabraabiy Dengan Sanad Yang Baik)

3. Mengambil berat tentang sholat berjemaah.

Mengambil berat tentang sholat berjemaah akan menjadikan seseorang muslim bebas serta aman dari gangguan syaitan. bersikap sambil lewa terhadap sholat berjamaah akan menyebabkan syaitan akan mengambil peluang untuk mendampingi mereka. Apabila selalu berdampingan, lama kelamaan ia akan berjaya merasuk, menyihir atau melakukan kejahatan lain.

Mengikut riwayat Abu Hurairah r.a., Rasululllah saw telah bersabda maksudnya: “Mana-mana kampung mahupun kawasan hulu yang tidak mendirikan solat berjemaah meskipun penduduknya cuma tiga orang, nescaya akan didampingi oleh syaitan” Oleh itu hendaklah dirikan sholat berjemaah, sesungguhnya serigala akan memakan kambing-kambing yang menyendiri dari puaknya. (Hadis Riwayat Abu Daud Dengan Sanad)

4. Mendirikan Solat Tahajjud untuk memagarkan diri dari Sihir.

Bangunlah mengerjakan solat malam dan janganlah mempermudah-mudahkannya. SIfat mempermudah-mudahkan bangun bersolat malam boleh memberi ruang kepada syaitan untuk menguasai diri seseorang itu. Apabila syaitan telah mampu menguasai diri seseorang, maka dirinya adalah tidak ubah seperti bumi yang ketandusan akabibat kesan tindak balas hasil perlakukan syaitan tersebut.

5. Membaca doa perlindungan apabila masuk didalam tandas.

Tandas adalah tempat ktor dan merupakan rumah bagi syaitan, Apabila Rasulullah S.A.W mahu memasuku tandas. Baginda akan membaca doa perlindungan dengan berkata: Ertinya:

“Dengan nama Allah. Ya ALlah! Sesungguhnya aku berlindung denganMu dari sebarang kekotoran dan gangguan syaitan”

(Hadis Riwayat Al Bukhari dan Muslim)

Maksudnya adalah berlindung dari gangguan syaitan-syaitan jantan dan betina

6. Memagar isteri selepas selesai akad nikah

Selepas majlis akad nikah, pada malam pengantin sebelum memulakan adab-adab berpengantin yang lain, hendaklah suami meletakkan tangan kenannya di atas ubun-ubun kepala isterinya sambil berdoa: “Ya Allah, aku memohon kepadaMU kebaikan yang telah Engkau selubungi ke atasnya, dan aku berlindung dari keburukannya dan keburukan yeng telah Engkau selubungi ke atasnya. Ya Allah berkatilah isteriku ini atasku dan lindungi dirinya dari segala keburukan perbuatan orang-orang yang dengki dan perbuatan tukang sihir apabila dia telah melakukan sihir dan perbuatan orang-orang yang suka melakukan tipu daya:

(Hadis Riwayat Abu daud dan Menurut Al Albaaniy Sanadnya Baik)

7. Amalakan membaca ayat Kursi selepas solat, setiap pagi dan petang dan sebelum tidur.

Nabi SAW bersabda maksudnya, “Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat kursi sampai selesai satu ayat. Maka akan ada penjaga dari Allah untukmu, dan syaitan tidak akan mendekatimu sampai pagi.” (Hadis Riwayat Bukhari 2311)

8. Amalkan membaca zikir waktu pagi dan petang.

Dari Uthman bin Affan r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda ; “Tidaklah seorang hamba setiap pagi dan petang membaca; ‘ Bismillahillazi layadurrumaasmihi saiun filardi wallafis samai wahuwas samiul alim’ (maksudnya : Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada mudharat sedikit pun baik di bumi dan di langit, dan Ia Maha Melihat dan Maha Mengetahui.) kecuali bahawa tidak ada sesuatu yang membahayakannya.”

(Hadis Riwayat Abu Dawud dan Tarmizi)

{Zikir ini di baca 3 kali pada waktu pagi dan petang}

Di dalam hadis yang lain, dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa menjelang petang membaca , ‘A’uzubikalimatilla hittaamaati min syarrimaahalaq’ (maksudnya : Aku berlindung pada kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya) 3 kali maka tidak akan membahayakan baginya racun yang ada pada malam itu.” (Hadis Riwayat Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya)
17.05

ISLAM ITU INDAH, INI PENJELASANNYA

Islam Itu Indah Maka Renungkanlah
Maka lihatlah bentuk konkritnya pada sebarik kisah-kisah mengagumkan. Pada keteladanan agung kehidupan para salaf yang mulia. Pada ketakjuban akhlak tinggi mereka, pada keindahan pribadi yang tersiram dari mata air yang suci, pada kelembutan yang tersinari dari pelita yang menerangi, Sang Nabi yang begitu terpuji.


Segala puji bagi Allah rabb semesta alam. KepadaNyalah seluruh makhluk bertumpu dan mengadu, dari keterserakan asa, dari kelemahan daya, dari ketakmampuan usaha, dan dari kepandiran jiwa serta raga. DariNyalah keharmonisan alam berpadu, sehingga mengulunlah kasih dan sayang dengan penuh syahdu, maka lahirlah kemesraan meski terbingkai dari keragaman yang tak pernah satu.

Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan sekalian alam, Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, nabi penutup risalah, yang karenanya ia diutus untuk menebarkan kasih sayang ke seluruh alam. Maka adalah indah sabda-sabdanya penuh harmoni. Tindak-tanduknya penuh lestari. Perintah-perintahnya sepenuh ketulusan memberi.

Larangan-larangannya sepenuh keikhlasan menyelaksai. Maka sungguh indah. Antara sabda dan lelakunya tak pernah saling menyelisihi. Pun perintah dan larangannya tak pernah ada saling menyalahi. Maka adalah indah Islam agama yang mengajarkan kasih sayang, diturunkan oleh Dzat Yang Mahakasih dan sayang, diwahyukan melalui malaikat yang penuh kasih dan sayang, dan disampaikan untuk disebarkan kepada sekalian alam oleh nabi yang penuh kasih dan sayang. Sungguh indah agama yang dituntunkan oleh Dzat Yang Mahaindah lagi mencintai keindahan.

Karenanya, Islam hadir di tengah-tengah ummat bukan untuk membelenggu. Ia hadir demi memperindah tatanan. Yang rusak, ia perbaiki. Yang salah, ia betulkan. Yang bengkok, ia luruskan. Yang jelek, ia baguskan. Yang bodoh, ia pintarkan. Yang baik, ia ajarkan. Yang merusak, ia larangkan dan seterusnya. Islam hadir demi kasih sayang untuk sekalian alam.

Maka adalah wajar, jika sang pengemban risalah penuh kasih dan sayang kepada ummatnya. Sebab, ia adalah cermin tempat berkaca bagi kebengkokan-kebengkokan perilaku mereka. Sebab, ia adalah pelita yang membimbing bagi kegelapan-kegelapan hati mereka. Sebab, ia adalah penentram yang mengarahkan bagi kegalauan-kegalauan jiwa mereka. Dan sebab ia adalah qudwatun hasanah, sang panutan lagi teladan bagi kehidupan mereka.

Memang indah. Ia yang tersurat sebagai penuntun ummatnya demi kehidupan yang lebih baik, di dunia dan akhirat, benar-benar menjadi contoh yang sempurna dalam setiap sisi kehidupannya. Maka adalah keserasian yang ia ajarkan. Maka adalah kelembutan yang ia tularkan. Maka adalah keadilan yang ia sebarkan. Maka adalah kemuliaan hidup yang ia tawarkan. Maka adalah rahmatan lil alamin yang ia simpulkan, di tengah ummat.

Dan betul-betul indah ternyata ia benar-benar rahmatan lil alamin. Ajaran-ajarannya penuh sejuta hikmah. Wejangan-wejangannya tak pernah meninggalkan bekas lara di dada. Anjuran-anjurannya selalu menyimpul ulang semangat yang membaja. Nasehat-nasehatnya selalu tepat mengenai titik sasarannya, dan tanpa sedikitpun menyinggung amarah si empunya. Keadilan dalam berkata dan kejujuran dalam bersikap itulah pedomannya.
Maka lihatlah manusia-manusia di sekitarnya. Tak pernah ada yang terciderai rasa. Tak ada pula yang pernah tersinggung kata. Semua ia tunaikan hak-haknya. Tak ada pembedaan. Tak juga pengistemewaan. Kecuali pada hal yang sudah digariskan, yaitu ketaqwaan. Maka yang bangsawan tak tersanjungkan di hadapannya. Yang rakyat biasa saja juga tak terpinggirkan di majelisnya. Semua sama. Pun kaya dan miskin, tak ada beda. Masing-masing ia tunaikan hak-haknya, dengan perlakuan yang semesti dan sepantasnya.

Sang Nabi memang penuh kasih sayang kepada semuanya. Tapi, kepada wanita ia lebih lemah lembut daripada yang lainnya sebab ia tahu kunci kelemahannya. Dan tersebab itu ia pun bersabda kepada kita, selaku ummatnya, dalam riwayat Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi, “Wanita itu tercipta dari  tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok adalah atasnya. Jika terlalu keras meluruskannya engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Maka, berhati-hatilah memperlakukannya.”

Karenanya, ia tak pernah membentak kaum hawa. Sebab itu hanya akan mematahkannya saja. Tak pula ia terlalu memanjakannya. Karena ini hanya akan melenakannya semata. Seperti kisah turunnya surat Al-Ahzab ayat 28 dan 29. Ketika istri-istrinya meminta tambahan nafkah, dan berhasil membuat dirinya resah bercampur amarah. Tapi tetap saja tak ada kata-kata amukan yang tertumpah. Tak ada dampratan. Tak pula bentakan.

Atau seperti kisah Fatimah yang datang kepadanya meminta seorang pembantu rumah tangga. Meskipun yang hadir adalah putri kesayangannya, namun tetap saja tak ada pemanjaan yang berlebihan. Tak ia kabulkan keinginannya. Dan tak ia berikan apa yang dimauinya. Justru ia tawarkan apa yang lebih baik dari yang diminta, bahkan lebih baik dari dunia dan seisinya. Maka ia nasehatkan agar bertasbih, bertahmid, dan bertakbir tiga puluh tiga kali sebelum beranjak tidur sebagai gantinya.

Maka betul-betul indah ketika shahabat-shahabatnya beramai-ramai meniti setiap garis jejaknya. Seperti kisah Al-Faruq, ‘Umar bin Al-Khattab, yang tengah naik mimbar dan mengkritisi perihal tingginya mahar yang diminta kaum hawa. Maka berdirilah seorang dari mereka menyela dengan suara tegasnya. “Apakah engkau hendak membatasi sesuatu yang Allah sendiri pun tak pernah membatasinya dalam kitab suciNya?” begitu ujarnya.
Maka para hadirin terhenyak tak menyangka. Ternyata ada wanita yang sebegitu. Pun juga ‘Umar tak kalah kagetnya. Namun, tetap saja ada kasih sayang harus diberikannya, seperti panutannya yang begitu lemah lembut. Maka tak ada bentakan. Tak juga dampratan. Dan tak pula kata makian dasar wanita pembangkang. Maka adalah ‘Umar menjawabnya dengan penuh kelembutan, “Engkau benar wahai saudariku. Akulah yang salah!”

Subhanallah. Sungguh keluhuran budi yang terbungkus dalam beningnya hati nurani. Maka terlahirlah keharmonisan, terjelmalah kemesraan, dan terpadulah kesetiaan dan pengorbanan. Islam itu memang indah.
Toh begitu tetap ada sisi lain yang harus dicermati. Ada potensi lain yang musti diwaspadai. Agar tak berakhir tragis bak ummat-ummat terdahulu. Seperti kisah bani Israil yang tak sanggup mewaspadainya. Maka dimusnahkanlah tujuh puluh ribu pasukan dari mereka dalam sekejap saja. Maka sang pengemban risalah terakhir pun lekas-lekas mewanti-wanita kita, dengan bahasa kasih sayangnya yang teramat besar kepada ummatnya.

“Adalah dunia ini,” sabda beliau di sela-sela khutbahnya, “Sungguh indah nan mempesona tampak di mata. Dan Allah menyerahkan pemakmurannya kepada kalian; sebab Ia ingin menguji bagaimana amal-amal kalian. Karena itu, berhati-hatilah dari dunia, dan berhati-hatilah terhadap wanita.”

“Sebab,” lanjut beliau dalam riwayat Imam Muslim, “Musibah pertama yang menimpa Bani Israil adalah karena wanita.” “Maka,” pungkas beliau dalam riwayat Imam An-Nasa’i, “Tak ada musibah yang lebih berbahaya sepeninggalku melebihi wanita.”

Indah benar. Dua kutub yang saling berjauhan dipadukan dalam satu sulaman. Ia yang diwanti dan diwaspadai ternyata juga begitu disayangi. Maka ia pun tak terkekang hak asasinya. Dan tak jua terumbar kebebasannya. Ia dijaga tapi tetap dihargai. Juga dikaryakan sembari terus diawasi.

Maka lihatlah bentuk konkritnya pada sebarik kisah-kisah mengagumkan. Pada keteladanan agung kehidupan para salaf yang mulia. Pada ketakjuban akhlak tinggi mereka, pada keindahan pribadi yang tersiram dari mata air yang suci, pada kelembutan yang tersinari dari pelita yang menerangi, Sang Nabi yang begitu terpuji. Maka tak ada penelikungan atas nama wanita. Tak ada pengekangan atas hak-haknya sebagai manusia. Tak ada penodaan atas fitrah manusiawinya. Apatah lagi kezaliman pada kesucian dirinya. Ia benar-benar dijaga, tapi tetap dihormati. Betul-betul indah, seindah keagungan akhlak Sang Nabi yang begitu memukau jagad raya. Subhanallah. Lalu kita?

Sungguh, jauh panggang dari api. Ya, kita selaku ummatnya hanya bisa merenungi sambil mengintrospeksi diri: pada tutur kata kita, pada tingkah laku kita, pada kebeningan hati kita, dan pada kepandiran jiwa kita; sudah layakkah kita menjadi ummatnya? Lalu kita selaksai makna yang terkandung di dalamnya; sudah pantaskah kita, yang berikrar ke sana ke mari sebagai yang paling nyunnah, betul-betul menjadi pengikutnya? Setiap kita, saya dan anda, tentu lebih mengetahui apa jawaban pastinya. Sebab, masing-masing kita adalah yang paling tahu siapa diri kita yang sebenarnya.

Maka, marilah kita menyelaksai makna, sambil terus menyelam di lautan ilmu, pada keteladanan agung nan indah itu. Untuk kemudian di sana kita belajar pada pengalaman-pengalaman hidup mereka yang syahdu. Lalu, ianya kita jadikan asas kebermaknaan dalam setiap langkah kita menuju kemuliaan. Setelah itu, langkah-langkah tersebut kita jadikan neraca acuan bagi jejak-jejak kaki kita meniti jalan perubahan.
***

Madinah, 22 April 2015
Penulis : Ust. Abu Hasan Ridho Abdillah, BA., MA.
Artikel Muslim.Or.Id